Pemerintah Kabupaten Kampar
  • Home
  • BERITA
  • Hindari Virus Corona, Berupaya dan Berdoalah (2)
Bangkinang Kota BERITA Birokrasi KATEGORI KECAMATAN Kesehatan Pemda

Hindari Virus Corona, Berupaya dan Berdoalah (2)

Oleh: DRS. Miswar Pasai, MH, Ph.D

Pandemi virus Corona terus berlangsung di Indonesia sejak akhir tahun 2019 hingga kini masih tetap mewabah, khususnya di Indonesia. Kapan akan berakhirnya, masih sulit untuk diprediksi hingga hari ini. Hal itu, disebabkan oleh masyarakat yang tidak sepenuhnya mematuhui protokol kesehatan dan mungkin enggan memeriksa kesehaan ke pihak yang terkait, serta kurang membiasakan hidup sehat dengan melaksanakan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.

Sesugguhnya, melaksanakan protokol kesehatan itu,  harus dilaksanakan setiap orang dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari, terutama menghindari kerumunan, cuci tangan, memakai masker dan mengurangi aktivitas lainnya di luar rumah. Karena itu, melaksanakan protokol kesehatan merupakan hal yang “wajib” dipatuhi bagi setiap orang di Indonesia seperti, mencuci tangan, memakai masker, tidak berkerumun dan membiasakan cara hidup sehat dengan melaksanakan protokol Kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia.

Sebab, virus Corona, rentan tertular kepada setiap orang, terutama bagi orang yang tidak disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan. Selain itu, jangan lupa berdoa dan bermohon kepada Allah SWT agar kita terhindar dari virus Covid-19. Untuk menekan pandemi Corona, maka biasakan hidup sehat, dan tetap mematuhi protokol kesehatan serta jangan lupa meminata pertolongan kepada Allah SWT. Sebab, Allah SWT adalah penguasa jagad raya, yang sangat berkuasa atas apapun yang terjadi di permukaan bumi ini. Selain itu, maka kita wajib berupaya untuk menghindari hal-hal yang dapat tertular atau menularkan kepada virus Corona kepada orang lain seperti melaksanakan protokol kesehatan.

Diantara protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah pada saat pandemi virus Corona di Indonesia, khususnya di Provinsi Riau, maka pemerintah daerah dan tim yang tetap menghimbau agar masyarakat menghindar dari pandemi Corona dengan cara, tetap menjaga protokol kesehatan, seperti mencuci tangan menggunakan sabun, jaga jarak, minum vitamin, tidak berkerumun, serta segera periksakan kesahatan kepada dokter terdekat, jika ada gejala penyakit itu. Selain hal itu, jika kita terindikasi virus Corona, maka segera mengisolasi diri ke tempat-tempat yang telah ditentukan pemerintah atau pihak swasta lainnya yang mungkin menyediakan tempat isolasi bagi yang terdampak virus Corona.

Dari isolasi tersebut, disamping ada yang sembuh dari pandemi virus Corona, namun penambahan orang yang terpapar virus Corona masih rentan untuk terurs bertambah. Sebagaimana dilaporkan bahwa, hari ini ada 39.931 orang di Indonesia yang sembuh dari Covid-19. Jumlah total yang telah sembuh dari Corona sebanyak 3.211.078 orang. Selain itu, hari ini dilaporkan sebanyak 1.579 pasien positif Corona di Tanah Air meninggal dunia. Dengan demikian, jumlah total pasien positif Covid-19 yang meninggal sebanyak 112.198 orang. Pemerintah juga melaporkan jumlah suspek yang dipantau hari ini. Ada 286.417 suspek yang dipantau. Untuk jumlah spesimen yang diuji hari ini sebanyak 210.815. Pemerintah tak lelah mengimbau warga menaati protokol kesehatan pencegahan Covid-19, yakni mengenakan masker, mencuci tangan menggunakan sabun dengan air yang mengalir, serta menjaga jarak (Kompas.com, 2020).

Pemerintah juga telah menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 3 dan 4 untuk menekan laju penyebaran Corona. Warga diminta menaati aturan yang diberlakukan selama PPKM agar pandemi virus Corona dapat teratasi. Hanya dengan cara tidak berkumpul dan melaksanakan kegiatan yang dilarang oleh pemerintah yang telah diatur pemerintah, maka akan dapat menekan angka peningkatan jumlah orang yang terpapar pandemi virus Coron.

Positif Corona 3.686.740

Sementara itu, pada hari Senin, 9 Agustus 2021, perkembangan virus Corona Indonesia 9 Agustus 2021 bertambah 20.709 kasus, total 3.686.740 Positif. Berikut informasi terbaru data virus corona (Covid-19) di Indonesia, Senin (9/8/2021). Virus Corona, belum ada tanda-tanda akahir berakhir di Indonesia. Justru, trend tetap meningkat hingga Agustu 2021. Belum ada gelaja, akan menurunnya pandemi Corona di Indonesia? “Dosa saiapa dan Salah Siapakah”, pandemi Corona, khususnya di Indonesa saat ini, meminjam istilah dari judul penyanyi Balada, Ebiet G Ade.

Selanjutnya, kasus pandemi Covid-19, terus mengalami kenaikan. Presiden Jokowi beri peringatan pada 5 Daerah, diantaranya adalah Kalimantan Timur, hingga Provinsi Papua. Terus Alami Kenaikan Kasus Covid-19, karena itu Jokowi beri peringatan pada 5 daerah, yang berada Kaltim hingga Papua.  Data dari Satgas Covid-19 yang Tribunnews.com terima pukul 16.07 WIB, jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia bertambah 20.709 pasien.

Adapun total kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia hari ini yakni 3.686.740 pasien. Lalu, ada penambahan pasien sembuh sebanyak 44.959 orang.Total pasien yang sembuh pada hari ini menjadi 3.129.661 di seluruh Indonesia. Kemudian, jumlah pasien Covid-19 yang meninggal dunia dalam 24 jam terakhir sebanyak 1.475 orang. Total ada 108.571 orang yang dinyatakan meninggal dunia hingga hari ini.

Berkaitan dengan PPKM dilanjutkan atau tidak, maka pakar pandemi virus Corona, mengingatkan bahwa, angka kematian karena Covid-19 naik 3 kali lipat. Karena itu, pemerintah meminta, sebaiknya jadikan rumah ibadah sebagai Sentra Pengendalian Covid-19. Sebagaimana dikutip dari data kasus Corona,  berdasarkan data pada Minggu (8/8/2021) lalu, pasien positif bertambah 26.415 orang. Total kasus positif Covid-19 sebanyak 3.666.031 pasien.Selanjutnya, total pasien yang sembuh, yakni 3.084.702 orang. Ada penambahan pasien sembuh sebanyak 48.508 orang.

Sementara itu, total sebanyak 107.096 orang meninggal dunia, dengan penambahan 1.498 orang. Diduga Positif Covid-19, Pria Medan Ini Bebas Berkeliaran dan Kunjungi Lokasi Kuliner. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah vaksinasi dengan cara bergotong royong berbayar untuk individu ditiadakan. Menurut Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menghapuskan ketentuan pelaksanaan vaksinasi Gotong Royong berbayar untuk individu, (Tribunnews.com, (2021)

Keputusan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2021 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 10 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Permenkes tersebut sudah ditandatangani pada 28 Juli 2021.

Di sisi lain, Projo siap bahu-membahu laksanakan Vaksinasi Covid-19 di Wilayah Luar Jawa-Bali. Sebagaimana dikutip dari laman sehatnegeriku.kemkes.go.id, pelaksanaan vaksinasi Covid-19 akan tetap sama dengan mekanisme sebelumnya. Caranya, yakni diberikan secara gratis kepada seluruh masyarakat Indonesia melalui Program Vaksinasi Nasional Covid-19 dan Program Vaksinasi Gotong Royong melalui perusahaan.

Vaksinasi Gotong Royong melalui perusahaan hanya menggunakan vaksin Sinopharm dengan sasaran sekitar 7,5 juta penduduk usia diatas 18 tahun. Hal tersebut berbeda dengan Program Vaksinasi Nasional Covid-19 gratis yang menggunakan Sinovac, AstraZeneca, Moderna, Pfizer, Sinopharm, dan Novavax dengan sasaran lebih dari 200 juta penduduk usia di atas 12 tahun, Arif, Tio Buqi Abdullah (2021).

 

Kilas Balik Covid-19

Lebih dari sembilan bulan lalu, tepatnya pada 2 Maret 2020, Indonesia melaporkan bahwa, kasus pertama infeksi virus corona penyebab Covid-19. Saat itu Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya kasus 1 dan kasus 2 Covid-19 yang teridentifikasi pada seorang perempuan berusia 31 tahun dan ibunya yang berusia 64 tahun. Jokowi mengatakan, kasus pertama/orang pertama terinfeksi virus Corona, warga negara Jepang yang sempat melakukan perjalanan ke Indonesia. Setelah kasus pertama itu, maka kemudian menularkan virus itu kepada ibunya, yang merupakan kasus 2 virus Corona di Indonesia, sebagaimana dikutip dari laporan, Jawahir, Gustav Rizal dari Kompas.com, (2020).

Terkait dengan pandemi Corona, menurut Presiden Jokowi, mengumumkan dua orang di Indonesia positif Corona setelah pengumuman kasus pertama itu, Indonesia terus melaporkan kasus baru, yang terkait infeksi virus Corona hingga sembilan bulan setelahnya.  Perkembangan Covid-19 sudah berjalan selama 9 bulan pandemi Covid-19 di Indonesia, dan belum ada tanda-tanda bahwa, penularan Corona bisa dikendalikan. Justru, trennya, bahkan masih mengalami kenaikkan terus.  Berdasarkan data dari covid19.go.id hingga Rabu (2/12/2020) pukul 12.00 WIB, jumlah kasus Covid-19 di Indonesia saat ini mencapai 549.508 orang. Dalam periode waktu yang sama, korban meninggal dunia akibat Covid-19 juga masih terus bertambah.

Total kasus kematian akibat virus corona kini mencapai 17.199 orang, terhitung sejak awal pandemi. Sementara itu, pasien Covid-19 yang telah dinyatakan kini totalnya mencapai 458.880 orang. Tepat 9 bulan kasus Covid-19 di Republik Indonesia jumlah orang yang terjangkit virus Corona mencapai angka 549.508, dan bertambah menjadi 5.533. Selain itu, masih ada 73.429 orang yang berstatus kasus aktif Covid-19 di Indonesia. Mereka adalah pasien yang masih menjalani perawatan atau isolasi mandiri. Dampak pandemi Covid-19 di Indonesia, yaitu terkait dengan  pandemi Covid-19 memberi dampak besar pada berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya ekonomi, sosial, dan kesehatan.

Untuk mencegah penularan semakin meluas, kegiatan yang berpotensi mempertemukan banyak orang dalam satu waktu yang sama kini dibatasi. Kegiatan-kegiatan yang dibatasi antara lain, bersekolah, bekerja di kantor atau pabrik, menonton film di bioskop, dan menghadiri konser musik. Banyaknya pasien Covid-19 yang memerlukan perawatan medis juga membuat dokter dan tenaga kesehatan lain mendapat beban kerja ekstra. Di masa pandemi, para tenaga kesehatan adalah orang-orang yang berjuang di garda terdepan penanganan Covid-19.

Kasus Corona Virus di Indonesia diprediksi masih akan terus naik. Diantara alasannya, adalah dampak-dampak yang ditimbulkan selama sembilan bulan pandemi Covid-19 berlangsung di Indonesia menyangkut pada berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia, seperti aspek kesehatan, sosial, dan ekonomi dan tidak tertutup kepada aspek lainnya seperti terjadinya krisis eknomi di Indonesia bahkan mungkin juga pada tingkat dunia.

Tingginya angka kematian dokter berdasarkan data yang berhasil dihimpun oleh tim mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB ID) per 28 November 2020 pukul 00.00 WIB, terdapat 180 dokter di Indonesia yang gugur akibat pandemi Covid-19. Sebagaimana dikutip dari Kompas.com, (31 Agustus 2020), menurut epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman (Kompas.com, 2020) mengatakan bahwa, dengan terus bertambahnya dokter yang meninggal dunia akibat Covid-19 adalah kerugian besar bagi Indonesia.

Selain itu, dia mengungkapkan, berdasarkan data Bank Dunia, jumlah dokter di Indonesia terendah kedua di Asia Tenggara, yaitu sebesar 0,4 dokter per 1.000 penduduk. Menurut Ikatan Dokter Indonesi (IDI) menyebutkan bahwa, tak kurang dari 180 Dokter meninggal selama Pandemi Covid-19. Selain itu, kehilangan para dokter itu juga merugikan Indonesia dalam hal investasi sumber daya manusia (SDM) di bidang kesehatan. “Padahal kita sedang berperang maraton melawan Covid-19. Kehilangan tenaga medis adalah salah satu sinyal serius, yakni betapa masih lemahnya kita dalam program pengendalian pandemi,” ungkap Dicky Budiman, (Kompas.com, 2020).

Di sisi lainnya, pembelajaran jarak jauh sebagai upaya untuk mencegah penularan virus Corona semakin meluas dan mengganas, sehingga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengambil kebijakan penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Namun demikian, PJJ rupanya menghadirkan dan melahirkan sejumlah permasalahan yang harus dihadapi, baik oleh tenaga pendidik maupun siswa, terutama terkait dengan infrastruktur. Permasalahan tersebut antara lain, disebabkan oleh ketersediaan listrik dan jaringan internet. Selain itu, tidak sedikit keluarga yang tidak memiliki pegawai sebagai sarana untuk mengikuti PJJ. Dikutip dari Kompas.com, 13 Juli 2020, pengamat pendidikan Darmaningtyas menilai, PJJ tidak akan mungkin berjalan dengan baik. “Sudah dapat dipastikan tidak akan bisa berjalan baik, omong kosong kalau ada pejabat Kemendikbud bilang PJJ dapat berjalan baik. Pasti asal jalan atau asal-asalan saja,” ujarnya.

Sementara itu, mengutip Harian Kompas, Senin, 13 Juli 2020, menjelaskan bahwa, pembelajaran jarak jauh bagi para siswa tidak dapat terlaksana di daerah-daerah pelosok Indonesia. Tercatat, ada lebih dari 47.000 satuan pendidikan yang tidak memiliki akses listrik serta internet. Baca juga: Indonesia Resmi Resesi, Ini Bedanya dengan Krisis dan Depresi Ekonomi 3. Resesi ekonomi Indonesia resmi mengalami resesi ekonomi yang ditandai dengan produk domestik bruto (PDB) RI pada kuartal III-2020 minus mencapai 3,49 persen (year on year). Hal itu disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, seperti diberitakan Kompas.com, 5 November 2020.

“Dengan berbagai catatan peristiwa pada triwulan II-2020, ekonomi Indonesia kalau PDB atas dasar harga konstan kita bandingkan pada kuartal II-2019, maka ekonomi kontraksi 3,49 persen,” kata Suhariyanto. Dikutip dari Kompas.com, 20 Oktober 2020, dalam catatannya tentang setahun pemerintahan Jokowi-Maruf Amin, pengamat Ekonomi dari INDEF, Bhima Yudhistira Adhinegara mencatat, salah satu penyebab permasalahan ekonomi tahun ini adalah pandemi Covid-19. Dia mengatakan, masih tingginya penularan Covid-19 membuat mobilitas masyarakat menjadi rendah, dan dengan demikian mengakibatkan kelesuan perekonomian.

Selain itu, Bhima juga mengatakan bahwa, pertumbuhan ekonomi nasional mengalami penurunan akibat terlambatnya respons penanganan Covid-19 yang dilakukan Pemerintah. Sebagai perbandingan, Bhima menyebut, China yang merupakan negara asal pandemi, justru mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif, begitu pula dengan Vietnam. “Vietnam juga tumbuh positif 0,3 persen karena adanya respons cepat pada pemutusan rantai pandemi, dengan lakukan lockdown dan merupakan negara pertama yang memutus penerbangan udara dengan China,” kata Bhima seperti dukutip dari,  Kompas.com, (2020).

Dari berbagai persoalan yang dihadapi dalam bidang pendikikan, ekonomi dan sosial lainnya, tidak ada pilihan yang paling tepat, selain bagaimana caranya agar pandemi Virus Corona dapat segera ditekan dan dihabisi. Dengan demikian, masalah penyakit yang mematikan itu dapat segera diatasi dan bahkan dienyahkan dari permukaan bumi ini. Jika tidak bisa untuk seluruh dunia, maka kita berharap agar pandemi virus Corona atau Covid-19 ini dapat ditangani oleh pemerintah Indonesia dengan tuntas, sehingga dengan demikian, maka bangsa dan negara Indonesia dapat hidup normal kembali seperti sedia kala. Semoga dan Insya Allah.***

Penulis :
DRS. Miswar Pasai, MH, Ph.D
Tim Asistensi Bupati Kampar,
Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Kabupaten Kampar.

Related posts

Pemutakhiran Data Berkelanjutan oleh KPU Kampar, Hingga Oktober 2020 data Pemilih Kampar sebanyak 479.458 Pemilih.

Supardi

Masyarakat tanpa NIK bisa dapat bantuan dari Pemerintah, rumah penerima BLT akan di stiker.

Supardi

Satgas Pamtas Yonif 132/BS memberikan kejutan pohon natal dan nasi tumpeng kepada Mama dan Papa Papua

Supardi

Plt. Bupati Kampar ; Kampar Expo Ajang Bangkitkan UMKM dan Promosi Daerah.

Supardi

Berantas Pekat, Tim Yustisi Kampar Kembali Melakukan Operasi di Desa Bukit Payung.

Supardi

Bupati Kampar ; Jangan Sampai ada Riak dalam Pilkades Nantinya

Supardi